Archive

Monthly Archives: July 2011




Satu hal yang paling saya dan Endi ga sukai dari kegiatan berburu souvenir di Jatinegara adalah tempatnya yang panas dan sempit. Kalau datang di pagi hari, mungkin panasnya ga begitu kerasa. Tapi, coba deh ke sini siang bolong, misalnya sesudah acara di tempat lain paginya, rasanya udah kaya dikukus dengan uap panas (lebay). Di Pasar Jatinegara atau di Pasar Meester ini, lapak souvenir memang terletak di lantai basement, sama dengan vendor-vendor undangan di Pasar Tebet Barat. Tapi, dengan kadar keruwetan yang jauh lebih tinggi.

Sama Endi, saya dua kali berkunjung ke Jatinegara. Dua kali juga kami pulang tanpa hasil. Pernah barang yang kami inginkan ngga ada stoknya, kalau pun ada harganya muahal. Belum lagi penjual souvenir di sini banyak yang jualan rada maksa. Ditambah susah banget rasanya mau diskusi sama pasangan karena pramuniaganya rata-rata mendesak dengan bilang harga yang mereka kasih udah harga termurah. Silakan menikmati sakit kepala kalau sudah begini. Jangan lupa, karena rata-rata semua toko harganya hampir sama, barang-barang di sini susah ditawar. Padahal, apa untungnya saya nyari di pasar kalau ga bisa ditawar? Mending saya pesen souvenir di internet aja, tinggal transfer via mobile banking, barang dikirim tanpa perlu saya susah-susah dan jemput barang jauh-jauh, iya kan? *sensi*

Read More

Tempat yang menjadi pilihan kami untuk membuat undangan adalah Pasar Tebet Barat. Dari segi harga, kami tahu di sini bukan tempat termurah. Tapi, soal kualitas undangan, ga usah diragukan lagi karena di sini sudah cukup terkenal. Pertama kali berkunjung ke sini, saya ditemani Ida yang juga ingin menanyakan harga undangan untuk temen gerejanya.

Di Pasar Tebet ini, vendor-vendor undangan bisa ditemukan di lantai basement. Puluhan vendor numplek-blek di sini. Seluruh proses pembuatan undangan dari tawar-menawar harga, approval, pencetakan, penempelan, dilakukan di sini. Karena letaknya di basement, sangat disarankan berpakaian nyaman (kalau bisa kaos) dengan sandal/sepatu yang empuk. Jangan lupa untuk bawa minuman dingin sendiri selama hunting. Panas cyn!

Di kunjungan pertama ke sini, saya langsung jatuh hati dengan salah satu undangan di Mulia’s Card. Budgetnya juga masuk dengan budget undangan kami. Ida makin ngeracunin dengan bilang undangan itu lucu, unik, dan ga banyak dipakai orang. Sebelum pusing karena mabok undangan yang jumlahnya banyak banget, saya menguatkan hati untuk memilih undangan di Mulia’s Card ini. Tetapi, karena semuanya harus diputuskan berdua dengan Endi, jadi hari itu saya hanya mengambil foto undangan, foto satu undangan lain sebagai pilihan kedua, dan minta kartu nama pemilik toko.

Soal desain, undangan di Pasar Tebet ini emang bagus-bagus kok. Harganya juga bersaing. Saran saya, coba untuk membandingkan beberapa toko dan coba menanyakan harga ke toko yang bentuknya sederhana (misalnya kiosnya ga ber-AC atau ga pake pintu-pintu heboh). Berdasarkan pengalaman saya, semakin mewah tempat si vendor undangan ini, harganya semakin mahal.

Saya memang hanya akan mencetak 300 kartu undangan (jumlah cetak minimal). Nah, semakin banyak jumlah kartunya, harganya akan semakin murah. Karena kami pesan ga terlalu banyak, harga yang dikenakan ternyata jadi cukup mahal. Ya sudah. Gapapalah. Biar sedikit, yang penting puas. Iya kan? :) Jangan lupa melebihkan undangan sekitar 50 buah untuk jaga-jaga. Daripada nyesel kalo kurang kan?

Undangan yang saya suka itu, akhirnya di-ACC Endi, hihi. Endi suka dengan tampilannya karena menurut dia cocok dengan warna tema pernikahan kami. Dia juga bilang desain undangan itu unik dan ga pasaran, hehe. Beberapa hari menjelang kunjungan kami ke Mulia’s Card Pasar Tebet, saya bikin draft undangan sendiri, jadi si drafter di Mulia’s Card tinggal copy-paste dari draft yang saya buat. Tujuannya, meminimalisasi kesalahan eja dan mempercepat kerjaan! :)

Akhirnya 8 Juni 2011, saya&Endi datang lagi ke Mulia’s Card buat deal harga, bayar DP, dan bikin draft undangannya. Pak Idris, pemilik sekaligus drafter Mulia’s Card ga banyak omong tapi kerjanya cepet banget, hoho. Di hari itu juga undangan kami selesai dan masuk ke final draft, besoknya langsung naik cetak, dua minggu kemudian undangan kami jadi, yipiiii. Cepet ya? Jadi, masih beberapa bulan menjelang pernikahan, kami sudah punya undangan, hehe. Alhamdulillah, Pak Idris dan Mba Ana yang mengurus sangat kooperatif, hasil undangan kami juga memuaskan! Mulia’s Card is totally recommended!

Mulia Production | Wedding Invitation Card

Pasar Tebet Barat Lantai Basement Blok CKS

Jakarta Selatan, 12810 (telepon: 021 9444 8666)

CP: Idris IP (ponsel: 0858 1444 8666)

Email: idrisjayadiputra@yahoo.com

Masjid Nimatul Ittihad ini adalah salah satu lokasi pernikahan yang bisa dipakai di Jakarta Selatan. Letaknya deket banget dari lampu merah Pasar Jumat jadi gampang dijangkau dari segala arah (Ciputat, Kebayoran, dan Pondok Indah), persisnya di sebelah Alfamart dekat BTA Pondok Pinang. Parkiran masjid ini cukup luas (di belakang masjid) dan rindang. Sayang, kondisi parkiran kurang bagus pengaturan garis parkirnya juga ga jelas jadi mobil-mobil parkir acak-acakan.

Dari segi bagunan, gedung masjid ini sudah cukup tua. Di tengah ruangan ada 10 pilar penyangga. Ruang utama dicat putih dengan jendela-jendela besar berkaca nako sebagai ventilasi udara. Yap, there’s no air conditioner. Ajiib deh, serasa melawan udara panas seantero Pondok Pinang apalagi kalau acaranya diadakan bertepatan dengan makan siang.

Plus

1. Pemakaian masjid untuk akad gratis (tidak dikenakan biaya tambahan).
2. Tidak ada charge katering asal kita memberitahukan jumlah undangan kita ke pengurus masjid.
3. Pembaca Alquran, tilawah, dan penasehat pernikahan bisa diminta dari masjid.
4. Lokasi mudah dijangkau dan ditemukan (di pinggir jalan raya Ciputat-Pondok Pinang).
5. Waktu pemakaian gedung cukup panjang (6 jam) dan pihak pengurus memastikan tidak ada pengusiran jika waktu yang digunakan pengantin melebihi itu.

Minus
1. Gedung tidak memiliki fasilitas AC. AC tambahan tidak dimungkinkan tanpa penambahan generator listrik terpisah (listrik gedung terbatas).
2. Tidak boleh ada live music kecuali musik marawis atau qasidah.
3. Tidak ada panggung permanen, jadi panggung harus disediakan oleh pihak EO.
4. Cat, lantai, kursi, toilet, dan berbagai perangkat di masjid banyak yang terlihat sudah tua dan perlu diganti. Tanpa penambahan dekorasi, sepuluh pilar yang ada di bagian dalam aula membuat aula terlihat “kucel”. Cat aula yang putih pucat juga kusam dan kelihatan perlu sekali dipoles ulang.
5. Untuk ukuran masjid, biaya sewanya terbilang cukup mahal. Gedung Departemen Dalam Negeri di Kalibata yang besar, ber-AC, dan memiliki panggung permanen saja mematok harga lebih murah satu juta rupiah dibandingkan gedung ini.

Ini adalah vendor tempat pernikahan yang kami lihat pertama kali. Pertama berkunjung, saya benar-benar jatuh cinta dengan bentuk pendoponya yang terbuka. Pesta pernikahan yang digelar di pendopo seperti ini tampaknya menarik dan tidak seformal pesta pernikahan pada umumnya. Tapi, sayangnya lokasinya agak jauh dari rumah saya. Sepertinya menjangkaunya juga sulit. Untuk pasangan yang akan menggunakan Istana Nelayan, di sini tersedia paket pernikahan yang bisa dipilih. Berikut plus dan minus dari Istana Nelayan.

Plus
1. Gedung gratis dan sudah termasuk dalam paket katering, jadi kita hanya perlu membayar katering saja.
2. Dekorasi gratis.
3. Video dan foto gratis.
4. Bonus 5 loyang cake/puding.
4. Make up pengantin tersedia.
5. Gratis tempat untuk akad.
6. Desain pendopo dan outdoor cukup cantik.
7. Toilet bersih dan keadaan lingkungan pendopo cukup bersih.

Minus
1. Lokasi jauh dari Pamulang (rumah saya).
2. Harga paket belum termasuk makanan gubukan (terpisah) dan saat ditotal, jumlahnya ternyata jauh lebih besar.
3. Vendor make up Istana Nelayan hanya menyediakan baju pengantin dengan desain internasional (gaun) dan bukan kebaya. Jika capeng ingin mengenakan kebaya, capeng harus mengupgrade paket ke salon rekanan IN.
4. Ada peraturan penambahan piring yang cukup aneh menurut saya: jika resepsi belum selesai dan piring sudah habis, makanan akan ditarik oleh pihak IN. Setelah itu, penambahan piring kosong dikenakan biaya charge penambahan makanan.
5. Banyak charge tambahan misalnya listrik untuk band dan Rp200.000 untuk setiap gubukan dari luar IN.
6. Pihak capeng tidak boleh membawa tambahan makanan tanpa melaporkan ke pihak IN.

Yak, akhirnya saya memutuskan memindahkan semua tulisan tentang pernikahan saya ke blog saya yang sudah tua renta ini. Sebelumnya saya memisahkan tulisan-tulisan ini ke blog terpisah dengan harapan saya bisa menulis di blog yang lebih fokus. Tetapi, ternyata blog itu terabaikan :( . Apalagi menjelang Ramadan dan Idul Fitri ini banyak deadline majalah yang dimajukan jadilah si blog baru itu semakin ga keurus. Satu lagi yang jadi pertimbangan, blog saya ini page rank-nya cukup tinggi. Tulisan yang saya posting di sini tingkat keterbacaannya cukup besar dibandingkan di blog yang sama sekali baru. Toh tujuan semua review yang saya tulis ini kan membantu orang lain sehingga akan lebih baik sepertinya kalau saya posting di blog saya yang lebih terkenal ini… *dilempar sendal*

Oke, review pertama adalah gedung acara pernikahan. Gedung yang menjadi pilihan kami adalah Wisma Syahida yang terletak di Kampus II UIN Syarif Hidayatullah Ciputat. Di antara keempat gedung yang sudah saya datangi: Istana Nelayan, Masjid Al-Ittihad, Wisma Syahida, dan Selapa POLRI Pasar Jumat, gedung pilihan kami ini adalah gedung dengan tampilan paling sesuai budget, hihi (kalau mau bilang paling bagus ga juga, soalnya masih lebih megah Selapa). Tapiii, total harga gedung Selapa itu lebih mahal hampir 40 persen dari harga Wisma Syahida. Perlu dicatat, ini belum termasuk charge katering yang dikenakan manajemen Selapa lho ya, yang perporsinya mencapai 30% dari harga katering. Intinya, muahaaal, cong! Kalau budget Anda segitu, lebih baik Anda menyewa Manggala Wanabakti deh, hehe.

Pertama kali ngeliat Wisma Syahida, Saya dan Endi langsung suka. Oh iya, di Wisma Syahida atau Syahida Inn ini ada dua tempat yang biasa digunakan untuk acara pernikahan: gedung serbaguna dan auditorium. Perbedaannya, selain harganya terletak di bentuk gedung. Pilihan kami jatuh ke auditorium yang langit-langitnya lebih tinggi dan secara keseluruhan lebih luas. Fasilitas di Wisma Syahida ini mencakup parkiran luas, ruang ganti/rias/toilet ber-AC untuk laki-laki dan perempuan, toilet tamu, dan dapur. Tapi, fyi, charge di gedung ini lumayan banyak lho. Ada charge katering, charge panggung, charge listrik (untuk acara malam hari), hahaha, ajegile deh. Tapi gapapalah ya, maklumin aja. Di daerah Jakarta Selatan, khususnya Ciputat dan sekitarnya pilihan gedung terbatas banget, lagian gedung ini cukup dekat dari rumah saya dan rumah tante saya. Jadi, yo weslaaah.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.