Lovely Enamel tote bag from Yah.
*Slurrrrrp! =D
Tulisan ini muncul atas reaksi terhadap film Fitna yang dibuat oleh seorang politikus sayap kanan Belanda.
Membaca berita yang mengatakan seorang politikus sayap kanan negara tulip membuat “kolase” film yang mendiskreditkan Islam, mau tidak mau membuat saya mengerenyit.
Saya jadi bertanya-tanya, apakah benar, di negara Eropa sana masih ada bentuk-bentuk tindakan jauh dari pendidikan seperti ini? Hmmmm, kalau begitu, mungkin masih lebih baik kondisi negara saya. Negara saya yang indah dan makmur ini memang memiliki bekas-bekas perseteruan konflik antaragama, namun setidaknya masih “bisa” dimaklumi karena tidak bertujuan mencari sensasi semata-mata. Lagipula sedikit warga negara saya yang mengerti bagaimana mengeluarkan ketidaksetujuan melalui cara yang tidak destruktif. Tentu, akibat sedikitnya orang yang sudah mengenyam bangku sekolahan. Di sini, penghinaan dan pencemoohan agama dengan tujuan mencari sensasi paling banter terjadi sebatas di situs-situs forum diskusi di internet. Isinya, bisa ditebak, ngalor ngidul. Orang-orang waras tentu cukup sadar untuk tidak terlibat dalam situs yang menaikkan tensi darah ini. Di forum-forum ini, kita akan membuktikan sendiri peribahasa, “air beriak tanda tak dalam”. Yang paling ndablek lah yang doyan ikut. Isi tulisan mereka, bisa diprediksi hanya berkisar pada hinaan tanpa ilmu, tidak jelas ujung kepala dan ujung ekornya.
Kembali pada masalah pendidikan, tentu, penggeneralisasian seperti ini akan sangat tidak adil. Bagaimana bisa hasil pendidikan suatu bangsa, dalam hal ini Belanda, ditentukan oleh satu orang saja? Karena satu orang itu “menyimpang” maka “menyimpang” pulalah semua orang yang ada di dalamnya? Tentu tidak, ini tidak adil.
Sama mungkin dengan kasus tewasnya sebuah keluarga di Makassar akibat kelaparan. Masih bisa kita ingat, pemerintah Makassar secepat kilat menjadi tertuduh akibat hal ini. Bagaimana bisa dalam satu daerah masih ada orang kelaparan? Bagaimana bisa pemerintah daerah tidak memperhatikan hal ini?
Tentu, ini tidak adil bagi pemerintah Makasar.
Bagaimana bisa, kasus kematian pada satu keluarga yang bahkan belum jelas sebabnya apa menjadi ukuran tidak becusnya suatu pemerintahan dalam bekerja memenuhi hajat rakyatnya. Kalau dalam daerah itu hanya terdiri dari satu keluarga saja, sehingga kematian satu keluarga mewakili 100% populasi, barulah bisa kita katakan pemerintah perlu mendapatkan tinjauan ulang. Bukan bermaksud mengecilkan nyawa satu, dua, tiga, atau berapa orang pun. Saya tidak bermaksud seperti itu. Namun, dalam populasi beratus-ratus ribu, bahkan berjuta-juta, tampaknya tindakan langsung menyalahkan pemerintah jelas berlebihan. Ndak pake ilmu, kalau orang Jawa bilang. Belakangan, saat diketahui bahwa kepala keluarga ini adalah seorang pemabuk sehingga ia lalai memberi nafkah pada keluarganya, barulah jelas duduk perkaranya.
Nah, menurut saya, pada saat ini, bisalah kita katakan pemerintah MEMANG memiliki andil dalam tewasnya keluarga ini. Pertama, pemerintah telah gagal melindungi hak-hak warga masyarakatnya. Kedua, pemerintah daerah tidak sukses menyelesaikan masalah minuman keras sehingga ada warganya yang doyan mabok dan lalai memenuhi fungsinya. Ketiga, pemerintah juga gagal melindungi hak anak sehingga anak dari keluarga itu tewas. Dan terakhir, pemerintah tidak sukses mengatasi pengangguran sehingga pasangan suami istri itu tidak berpencarian layak. Tambahan kesalah pemerintah silakan didaftarkan sendiri.
Kembali pada negara tulip, tampaknya hal yang sama yang bisa saya katakan. Mari kita lihat duduk perkaranya. Kalau tindakan pembuat film Fitna itu semata-mata mencari sensasi, ya jangan kita kasih sensasinya. Cuekin aja.
Sekarang, kita lihat bagaimana pemerintah negara tulip itu menyelesaikan masalah ini. Ngga usah kita benci negaranya karena ulah satu, dua, atau beberapa orang ini. Itu berlebihan, jelas berlebihan. Kalau kata orang Jawa lagi, sing waras ngalah. Jangan sampai ada acara boikot-boikot barang segala-laaah, karena walau bagaimanapun, “orang-orang kecil” seperti kita ini yang akan kena dampaknya–mau itu di negara tulip sana, atau negara berforum cemoohan rame seperti negara kita ini.
Lima artis cowo terfavorit dan ter-oke versi Rosi :
1. Jude Law di The Holiday.
Sebenernya, di film apa pun Jude Law berakting, gw akan selalu menyukai dia, hehe, curang ya. Tapi di film ini, dia bisa mencampurkan karakter alami yang dia punya, yaitu karakter penggoda dengan perannya sebagai seorang ayah single parent yang baik. Di tambah latarnya rumah pedesaan Inggris. Wow, menggiuuuurkan sekaliiiii! Pedesaannya, bukan Jude Law-nya, hehe. *bohong banget*
2. Johnny Deep di The Pirates of the Carribean
Siapa sih yang ngga?
3. Christian Bale di The Machinist
Jujur gw ngga suka dengan film ini. Ini film yang suram dan membuat gw merasa gw sedang mengaduk-aduk isi kepala gw sendiri. Mungkin karena ini film psikologi. Pokoknya tidak menyenangkan. Yang membuat gw menominasikan Christian Bale adalah ketotalannya. Di film ini dia menurunkan berat badannya nyaris 30 kg. Buat film ini aja! Damn! OKE BANGET! Waktu nonton kita seperti melihat mayat hidup berjalan. Bahkan seseorang seganteng Christian Bale pun ngga terlihat ganteng dalam keadaan seperti ini. Sangat, sangat, sangat menyeramkan tapi bikin salut: betapa seorang artis bisa berbuat gila-gilaan untuk mendukung peran yang bakal dia mainkan. *Jadi inget sinetron multivision yang diperanin ama Agnes Monica. Agnes berperan jadi gadis luar biasa miskin, tapi rambutnya berwarna merah highlight dengan model rancangan hair stylist, ckckck. Atau salah satu sinetron lain yang tokoh utamanya JUGA seorang gembel (saat ini ada kecenderungan dari industri persinetronan kita yang gemar mengangkat tokoh gembel dalam ceritanya, aneh memang). Dari fisik luar cukup meyakinkan, sayangnya si gembel itu pake BEHEL. Konyolkonyolkonyolkonyol.
4. Rob Schneider di Hot Chick
Siapa yang ngga suka sama Rob Schneider? Total, total, total banget! Dia berperan jadi perempuan yang akibat kesalahan mantra berubah jadi laki-laki. Salah satu dari sedikit film komedi yang membuat gw benar-benar tertawa.
5. Deddy Mizwar di Nagabonar
Kalau ada artis Indonesia yang layak untuk dicap sebagai artis papan atas, Deddy Mizwar orangnya. Aktingnya bareng Tora Sudiro makin mengukuhkan kalau dia artis senior dan Tora masih perlu belajar banyak, haha sotoy. Gw dan Endi bahkan masih inget dengan satu dialognya, “Tegakkan badanku! Tegakkan badanku! Aku ingin melihat merah putih berkibar di puncaknya!”, dan gw inget satu lagi, “Salahku aku masih hidup di zamanmu. Zaman yang tidak bisa kumengerti, tapi berusaha kupahami karena aku begitu mencintaimu,” atau ejekan dia ke Wulan Guritno yang bilang kalo omongan Wulan muter-muter dan ngga ada ujungnya, “Macam mencari ketiak ular!” katanya. Oke banget pokoknya!
Oke, itu 5 artis cowo favorit versi gw. Gw nge-review berdasarkan film2 yang udah gw tonton aja, jadi kalau ada yang ngga puas, maap2 aja yaa..
Hmmmm, sekarang gw mau cerita tentang salah satu kegiatan rutin gw yang sudah berlangsung sejak gw semester satu, yaitu ngajar. Buat nyambung hidup, gw melakukan pekerjaan yang standar dilakukan banyak mahasiswa: ya ngajar itu. Honor dari ngajar lumayan banget. Lumayan banget juga buat rasa percaya diri gw. Rasa percaya diri? Iya. Soalnya, gw punya kecenderungan untuk merasa minder kalo ngga melakukan apa-apa. Bahkan di saat gw emang harusnya ngga kerja karena jadwal kuliah gw padat dan sangat sibuk, gw bakal tetep ngajar demi perasaan berguna (dan penghasilan tiap bulan, tentunya). Walaupun, masalah uangnya itu bukan yang utama sebenernya. Uang kuliah gw sudah terbayar dengan uang beasiswa yang abisnya menyesuaikan dengan waktu gw lulus, lucky me. Jadi emang hasil ngajar itu ngga buat nyambung nyambung hidup amat sih sebenernya.
Perasaan kalo gw itu ngga “hidup cuma ngabisin duit doang setiap hari” itu yang penting, setidaknya buat gw. Padahal, honor ngajar gw sih paling abis buat beli kaos, tas, atau gw tabung kalo mau beli sesuatu tiap bulan.
Di jurusan gw, semua orang memang seperti itu. Kerja maksud gw. Jadi waktu gw memutuskan aktif ngajar lagi, setelah berbulan-bulan berenti, teman-teman gw sangat-sangat senang. Mereka bilang capek denger cerita gw yang berkesan kalo ngga ada yang menggaji gw gw bakal mati sengsara.
Sekarang gw ngajar di bimbel. Di sini gw belajar banyak. Dari masalah ketepatan waktu, toleransi, sampai masalah respek. Masalah ketepatan waktu itu dulunya lumayan merepotkan. Jadwal di bimbel kan beda dengan privat, soalnya di bimbel gw harus patuh ama jadwal yang ada. Telat lebih dari 20 menit, gw diganti. Beda sama privat yang jadwalnya lebih fleksibel.
Soal respek inilah yang kacau banget awalnya. Dulu, setiap masuk kelas yang ribut dan ngga bisa disuruh diem, mood, rasa percaya diri, dan semangat ngajar gw langsung drop ke titik paling rendah. Pokoknya ngebikin gw jadi jutek, ketus, dan gampang marah-marah di kelas itu. Ini berlangsung beberapa minggu sampai ada kuesioner yang dibagiin sama manajemen bimbel. Hasil kuesioner itu yang mengubah dunia gw (beilah gaya banget). Di beberapa kelas, gw dinilai sebagai tentor yang ngga berkualitas dan mereka minta gw diganti dari kelas-kelas mereka. Kacau banget! Ternyata sakit juga rasanya ngebaca tulisan kebencian mereka di lembar penilaian gw, walaupun semua itu karena gw memang marah-marah di kelas mereka. Jadi guru itu ternyata sangat-sangat sulit, kawan.
Tiap ngebaca hasil angket sejenis itu, angket yang bernada tidak suka pada gw, biasanya gw masuk ke kamar mandi yang ada di lantai 1. Gw nyalain keran air, terus nangis diem-diem. Ini terjadi beberapa kali, dan pada akhirnya bikin gw jadi ngga semangat ngajar, jadi takut lebih tepatnya.
Tapi itu dulu. Masa-masa itu sudah lewat.
Awalnya, gw berpikir kalo sepertinya gw yang harus “melunak” pada mereka setelah ngajar di salah satu kelas 3 IPS. Kelas itu isinya anak2 cowo yang bisa gw bilang “berandalan”. Pokoknya anak-anak yang selalu datang telat, terus kalau di kelas suka ngangkat kakinya ke bangku, ngetik sms, telpon-telponan, ngobrol, atau diem aja tapi nganggep gw ngga ada. Hhhhhhh, kelas yang sulit pokoknya.
Setelah beberapa kali ngajar, dan serius, ngga ngehasilin apa-apa, gw nyoba buat nanya2 soal sekolah mereka. Pertama, gimana guru bahasa Indonesia mereka. Apa yang membuat mereka susah ngerti bahasa Indonesia. Gimana suasana belajar mereka, ampe akhirnya melebar ke tempat mereka nongkrong, apa aja yang mereka lakukan, dan yang paling keren yang bisa gw tanya: apa cita-cita mereka. Saat itu mereka mulai merhatiin gw. Di kelas itu gw menyadari kalo yang mereka butuhkan ngga cuma pelajaran tentang EYD, unsur intrinsik-ekstrinsik karya sastra, drama, paragraf, dan segala macemnya. Mereka butuh orang buat ngajak mereka ngobrol, ketawa dan bercanda: hal-hal yang jarang mereka temuin dari guru-guru mereka di sekolah. Sampe sekarang gw udah tau mana yang punya pacar dan mana yang ngga di antara mereka. HAHA. Pendeknya, sejak saat itu gw berusaha ngedeketin anak-anak yang gw ajar dengan banyak bertanya sama mereka. Itu kuncinya ternyata. Sebenernya, secara teori, dari dulu, gw udah tau hal ini, tapi ga nyangka gw bener2 ngalamin sendiri. HAHA =D
Tadi pagi sempet denger Prambors sebentar, Desta ngga siaran karena lagi dioperasi. Di dadanya tumbuh kelenjar katanya. Oke. Agak aneh. Tapi orang sakit ngga boleh diketawain kan *ga tahan*. Semoga Desta cepat sembuh dan bisa siaran lagi ya!
Ini kamar gw. Terletak di Pondok Kartika, Gang Kesadaran 18b, Depok. Kamar kecil saja. Di siang hari panas, karena bagian sampingnya menghadap matahari langsung. Kala malam juga panas, akibat hangatnya udara siang yang masih tersisa. Tempat gw melakukan hal-hal yang gw suka: misal nonton film sampai tidur-tiduran. Tempat gw juga melakukan segala sesuatu yang tidak gw suka: dari ngerjain tugas sampai menyusun bahan ajar.
Tempat semuanya berawal, dan juga berakhir, untuk hampir seluruh hari dalam hidup gw saat ini. Tempat gw meninggalkan buku-buku dan tas-tas gw yang sangat berharga. Sangat jarang menggunakan lampu ruangan, biasanya terang hanya dengan lampu meja belajar. Salah satu tempat favorit gw di dunia. Serius! =P
Beberapa hari ini hampir seluruh waktu gw, abis dalam kondisi autopilot. Ngajar, lewat gitu aja. Makan, lewat gitu aja. Ngeberesin kamar, juga lewat gitu aja. Ngga mood juga denger musik. Musik apapun. Ga tau kenapa, tapi mungkin ada hubungannya dengan keadaan tangan gw yang masih sakit banget akibat pengalaman fitnes pertama hari Jumat kemarin. Jadinya males ngapa-ngapain. Kalo bisa memilih, mungkin gw ngga akan dateng fitnes lagi (kenapa gw fitnes gw jelaskan panjang lebar nanti). Tapi masalahnya, sayang juga sama uang yang udah gw masukin ke sana sebagai pembayaran member satu bulan. Nominalnya cukup untuk membeli barang-barang yang gw idam-idamkan dan baru terbayar dengan upah beberapa kali ngajar. Untuk gw, itu pengorbanan yang cukup besar. Jadi, yah, jelas gw ngga punya pilihan. Mau tidak mau, gw akan datang lagi ke sana Senin besok. Ini adalah perasaan pasrah menerima badan gw dipukulin dalam waktu 1 jam 30 menit dan cukup puas untuk bisa pulang dengan organ tubuh yang masih berfungsi =(
Wish me luck guys!
Apa kabar skripsi? Gw baru (akan) memulai mendeskripsiin naskah gw. Mulai menggarap bab IV. Ini memerlukan perhatian yang sangat besar karena gw harus ngegarap tulisan Jawi yang kemungkinan salah tafsirnya bisa terjadi dan fatal. Gw ga mau itu kejadian, jadi dari kemarin gw tunda-tunda terus. Takut mood gw yang jelek ini membuat gw mengerjakan deskripsi itu dengan asal-asalan. Alhasil, nyaris dua minggu gw cuma membuka file word ‘kandungan’ cuma untuk ditutup lagi. Bleh!
Kemarin Endi ngebeliin cd game Burger Island. Game ‘klik-klik-klik’ kalo dia bilang. Model game ini emang cuma memerlukan kecepatan pemainnya dalam mengklik-klik-klik mouse. Ga perlu strategi, ga perlu berpikir keras. Gw ngeliat game ini pertama kali di warnet Roxy di Margonda, dan sangat-sangat-sangat tertarik untuk memilikinya. He’s a really-really great guy, Endi, I mean.
And I need a rest! A really-really rest!
Bleh!
*Mengulang umpatan yang sama dalam satu post. Betapa tidak kreatifnya saya sekarang….
Ini transliterasi Ramalan dan Nujum ML 65, isi bab III. Bisa nangis semalem suntuk gw kalo data yang ini raib. *ngebayanginnya aja ga mampu*
Kalau itu kejadian. Semester depan gw akan menempuh jalur nonskripsi sajalah! *tetep ngga mampu ngebayanginnya*
Ramalan dan Nujum ML 65
1 Allah //
2 Allah / Allah / Allah / Allah / Allah //
3 Allah rasa karsa ber bama bama bama ya / Allah ila berkata la Allah hi Read More
Dalam rangka menghindari ilangnya data skripsi gw, gw memutuskan menyimpan bab-bab yang sudah selesai di blog gw ini. Kalo ada isinya yang bisa dipergunakan sama orang2 yang membutuhkan juga sok aja diambil. Tapi kalo kutipan, jangan lupa ditulis asalnya ya!
Tapi ini masih kasar banget. Belom masuk ke draft I soalnya. Okeh. Read More